Friday, August 29, 2008

Ah, kenyataan negeri ini

Pria itu berjalan dengan langkah mantap
Keluar dari rumahnya yang berpilar dan berlantai marmer
Dengan setelan Armaninya yang terbaru
Dan sepatu dari kulit asli yang mengkilap
Dasinya terikat mantap di lehernya
Meneriakkan pada dunia bahwa ia pria terhormat
Di tangannya sebuah telpon genggam
Merek terbaru dengan berbagai macam fasilitas
Di dalamnya tersimpan nomer-nomer orang penting
Siap dihubungi dalam satu kali tekan
Ia berbicara dengan suaranya yang megah
Menyuruh ini itu dengan kekuasaan absolut seorang penguasa
Ia masuk ke mobilnya yang diimpor dari luar negeri
Harganya cukup untuk makan satu negeri
Ia menyebutkan tujuannya dan kata-katanya adalah perintah
Mobilnya ber-AC, joknya juga kulit kualitas terbaik
Ia berhenti di sebuah restoran mewah
Ketika ia masuk semua orang tahu namanya
Ia melangkah pasti ke arah pria terhormat lainnya
Yang memandangnya tabik dengan wajah merendah
Mereka bicara, dari urusan bisnis sampai politik
Bukan politik rakyat tentunya, karena mereka bukan rakyat
Setelah makanan yang melimpah habis dikunyah
Ia membayar dengan kartu kredit yang penggunaannya tak terbatas
Wajahnya tak peduli dengan nila yang harus dibayarnya
Ah, ia sudah biasa membayar, di negeri ini semua bisa dibeli
Ia kembali ke mobil mewahnya pergi ke tempat lain
Kali ini rumah yang juga mewah tapi tak semewah rumahnya
Di dalamnya seorang wanita menunggunya
Dengan kekaguman yang nyata
Mereka berbicara dan lebih lagi, menghabiskan waktu bersenang-senang
Setelah semua urusan selesai ia pergi meninggalan si wanita
Yang berdiri dengan keengganan terlihat jelas di wajahnya
Tujuannya setelah ini adalah sebuah lapangan hijau
Lapangan golf yang sudah dipesan khusus untuknya
Tempat ia biasa bermain golf sekadar menetapkan kekayaannya
Toh semua pria terhormat dan kaya raya main golf
Maka ia pun harus main golf sebagai pria terhormat dan kaya
Ah, ia sudah biasa mengikut, di negeri ini semua cuma bisa menganut
Setelah bola-bola berterbangan dan tangannya pegal mengayun tongkat
Ia duduk di bawah gazebo menikmati minuman dingin dan kue kecil
Dengan kacamata hitam bertanggar di hidungnya
Ia menghela nafas menikmati hidup, ah nikmatnya
Setelah puas bersantai ia pergi lagi
Menutup agendanya yang padat hari ini
Si pria terhormat pulang ke rumah mewahnya yang aman
Dan di malam hari ia tertidur pulas di ranjangnya yang nyaman
Di samping sang istri yang setia menemani
Dan pagi-pagi sekali ketika ayam belum juga berkokok
Ia meninggalkan rumah untuk pergi lagi
Kali ini ke penjara tempatnya seharusnya tinggal
Ia turun dari mobil ditunggu oleh serombongan polisi
Yang tersenyum lebar menyapanya dengan penuh hormat
Ia membagikan lembaran uang-uang baru
Dengan ketegasan seorang penguasa
Mereka membuka pintu dan ia masuk ke dalam selnya
Ia harus tinggal karena hari ini akan ada orang-orang yang datang melihatnya
Dan ia tak mau mereka tahu bahwa ia tak tinggal di penjara seperti seharusnya
Nanti setelah mereka pergi ia kembali lagi ke hidupnya yang serba nyaman
Ah, ia sudah biasa berbohong, di negeri ini semua itu bisa diatur

-me

Quote of the day:
"You can fool some people sometimes, but you can't fool all the people all the time."
-Bob Marley

No comments: