My ears are deaf and my eyes are blind
Today, I leave all behind
All I can hear is the voice of the new day
The singing of birds all together play
All I can see is the early dew on the ground
When the first wind blows without a sound
In the corner of my space alone I lay
Yesterday, the bloods and the wounds became array
So far away I fly
Far away from the world of thieves and the sly
I keep running to the end of the world that I know
I keep running until I’m panting and my moves become slow
I am a prey
Within my world that fades to grey
My soul longs to go away
But I’m trapped within this world night and day
Paralyzed completely deep to the soul
Watching as my world became foul
I have stayed in the back of my mind
Until I mush with all those kind
Bloods and sorrows and tears
How so I can leave all that and fears
I have to runaway I know I have to
Before my soul become hole and damp too
I sit in the center of my space
Waiting for someone to take me away without a trace
Years pass by and I’m still here
Soul wears off and feels no more
I close my eyes slowly
To help my soul that hurts severely
And than cold and numb my body be
My soul finally set to free
I hear the voices of children crying
As I fly away, they are fading
I feel the pain on my heart lifted
As slowly, my soul is shifted
My ears are deaf and my eyes are blind
Today, I leave all behind
Bloods and sorrows and tears
I leave all that and fears
I close my eyes to help my soul slowly
And finally rest I am in serenity
-me
January 25
00.30
"Everything you can imagine is real."
Pablo Picasso
Thursday, January 24, 2008
Wednesday, January 2, 2008
Selamat Sore, Pak Polisi!
“Selamat sore, Pak Polisi.”
“Nama?”
“Ngatno, Pak Polisi.”
“Alamat?”
“Jalan Perkampungan Kumuh No. 13, Pak Polisi.”
“Nama bapak situ siapa?”
“Paidjo, Pak Polisi.”
“Orang miskin, ya?!”
“Oh, nggak Pak Polisi.”
“Kerjaan bapak kamu?!”
“Tukang parkir, Pak Polisi.”
“Memangnya jadi tukang parkir, kaya?!”
“Loh, iya pak..
Kaya
kan
rel…”
“DIAM KAMU! Jangan banyak omong!”
“Baik, Pak Polisi.”
“Ngapain kamu?”
“Diam, Pak Polisi.”
“GOBLOK! Ngapain kamu sampai dibawa ke sini?”
“Nyolong, Pak Polisi.”
“Dasar orang miskin! Nyolong apa?!”
“Ayam, Pak Polisi.”
“Ayam saja dicolong!”
“Maaf, Pak Polisi.”
“Ayamnya buat apa?”
“Dijual, Pak Polisi.”
“Duitnya?!”
“Buat bawa anak berobat, Pak Polisi.”
“Dasar orang miskin!”
“Maaf, Pak Polisi.”
“Ya sudah! Kamu masuk penjara!”
“Berapa lama, Pak Polisi?”
“Seribu tahun!”
***
“Selamat sore, Pak Polisi.”
“Selamat sore, Pak. Maaf, kalau boleh tahu, nama panjang bapak, siapa?”
“Toni Moeharto.”
“Oh, iya, baik, Pak. Kalau alamat bapak?”
“Jalan Perumahan Elit No. 1.”
“Nama bapak atau orang tua, Pak?”
“Pak Roni Moeharto.”
“Maaf, Pak. Tolong dijawab, pekerjaannya Pak Roni Moeharto, apa, Pak?
“Dulu pengusaha, tapi sudah pensiun. Bapak saya orang kaya. Punya rumah 7. Perusahaannya, tersebar di seluruh Indonesia. Anak perusahaannya lebih dari 200 perusahaan. Investasi di mana-mana. Baru kemarin dia beli perkebunan kelapa sawit. Mobilnya yang….”
Dua jam kemudian.
“Pokoknya, bapak saya itu kaya lah.”
“Oh, iya Pak.”
“Apa lagi?”
“Begini Pak. Kalau saya oleh tahu, bapak kenapa bisa dibawa kemari?”
“Korupsi.”
“Maaf, Pak. Berapa banyak?
“Tiga ratus
lima puluh
enam triliun.”
“Oh, untuk apa ya Pak, uangnya?”
“Untuk keliling dunia, makan enak, untuk anak dan istri. Belanja.”
“Oh, iya.”
“Oh iya melulu! Terus gimana?”
“Oh, iya. Begini, Pak. Karena bapak bersalah korupsi, Bapak harus mendapat hukuman. Bapak harus ditahan, Pak.”
“Berapa lama?”
“Tiga tahun, Pak.”
***
“Tujuh belas Agustus tahun empat
lima…”
“Selamat pagi, Pak Toni Moeharto. Anda mendapat remisi.”
“Berapa bulan?”
“Tiga puluh bulan, Pak.”
“Dua setengah tahun?”
“Iya, Pak. Karena berkelakuan baik.”
“Oh, iya. Makasih. Jadi saya sudah boleh keluar?”
“Besok, Pak.”
“Maaf, Pak Polisi, saya dapat remisi tidak?”
“Nama?”
”Ngatno.”
“Nggak!"
”Kenapa, Pak?”
“Sudah kebanyakan yang dikasih remisi!”
***
“Pak Toni, selamat datang kembali ke perusahaan kita.”
“Terima kasih.”
“Kami sudah membuat pesta selamat datang atas kebebasan bapak.”
“Oh, iya, iya.”
“Senang sekali bertemu dengan bapak lagi.”
“Oh, iya.”
“Kolega-kolega bapak sudah tidak sabar untuk bekerja sama lagi dengan bapak.”
“Bagus, bagus. Kekayaan saya tidak diapa-apakan?”
“Tidak, Pak.”
“Bagus.”
***
“Heh, maling! Kamu sudah bebas?”
“Sudah. Maaf, Pak. Saya mau melamar pekerjaan.”
“Kamu pikir saya mau kasih kerjaan maling kayak kamu?”
“Maaf, Pak.”
“Sana, pergi!”
---
“Permisi, Pak.”
“Ya?"
“Saya mau cari pekerjaan. Apa saja saya mau.”
“Saya ogah mempekerjakan maling kayak kamu!”
---
“Permi…”
”Heh! Maling! Ngapain kamu ke sini?! PERGI!”
***
“Pak, anakmu sakit. Butuh uang.”
“Bapak, saya sudah ditagih uang sekolah.”
“Pak, tagihan listrik sudah menumpuk.”
“Bapak, saya lapar.”
“Pak!”
“Bapak!”
“Pak!”
“Bapak!”
***
“Saya nanti alihkan perhatiannya, kamu masuk lewat pintu samping.”
“Kamu yakin pintu samping nggak ada yang jaga?”
“Yakin! Kamu penakut amat sih No?”
“Saya takut dipenjara lagi.”
”Sudah, aman! Ayo! Satu, dua, tiga! Lari!”
Trap, trap, trap.
Kriet.
Bruk!
Gubrak!
“MALING!!!!”
“Dasar maling!”
“Gebukin aja!”
“Ampun!”
“Dasar maling! Sekali maling tetap maling!”
“Sudah! Bakar saja!”
“Ni korek!”
“Ni bensin!”
Byur!
Cres!
”Aaaaah!!!”
“MAMPUS LO! DASAR MALING!”
“Kebenaran menang!”
“Menang kebenaran!”
“Hukum sudah berdiri!”
“Sudah berdiri hukum!”
“Keadilan ditegakkan!”
“Ditegakkan keadilan!”
***
Nyawa sang maling melayang.
Harta sang koruptor mengembang.
Dunia bersenang-senang.
Atas keadilan yang katanya sudah menang.
13/05/07
-me
was in my friendster blog
“Nama?”
“Ngatno, Pak Polisi.”
“Alamat?”
“Jalan Perkampungan Kumuh No. 13, Pak Polisi.”
“Nama bapak situ siapa?”
“Paidjo, Pak Polisi.”
“Orang miskin, ya?!”
“Oh, nggak Pak Polisi.”
“Kerjaan bapak kamu?!”
“Tukang parkir, Pak Polisi.”
“Memangnya jadi tukang parkir, kaya?!”
“Loh, iya pak..
Kaya
kan
rel…”
“DIAM KAMU! Jangan banyak omong!”
“Baik, Pak Polisi.”
“Ngapain kamu?”
“Diam, Pak Polisi.”
“GOBLOK! Ngapain kamu sampai dibawa ke sini?”
“Nyolong, Pak Polisi.”
“Dasar orang miskin! Nyolong apa?!”
“Ayam, Pak Polisi.”
“Ayam saja dicolong!”
“Maaf, Pak Polisi.”
“Ayamnya buat apa?”
“Dijual, Pak Polisi.”
“Duitnya?!”
“Buat bawa anak berobat, Pak Polisi.”
“Dasar orang miskin!”
“Maaf, Pak Polisi.”
“Ya sudah! Kamu masuk penjara!”
“Berapa lama, Pak Polisi?”
“Seribu tahun!”
***
“Selamat sore, Pak Polisi.”
“Selamat sore, Pak. Maaf, kalau boleh tahu, nama panjang bapak, siapa?”
“Toni Moeharto.”
“Oh, iya, baik, Pak. Kalau alamat bapak?”
“Jalan Perumahan Elit No. 1.”
“Nama bapak atau orang tua, Pak?”
“Pak Roni Moeharto.”
“Maaf, Pak. Tolong dijawab, pekerjaannya Pak Roni Moeharto, apa, Pak?
“Dulu pengusaha, tapi sudah pensiun. Bapak saya orang kaya. Punya rumah 7. Perusahaannya, tersebar di seluruh Indonesia. Anak perusahaannya lebih dari 200 perusahaan. Investasi di mana-mana. Baru kemarin dia beli perkebunan kelapa sawit. Mobilnya yang….”
Dua jam kemudian.
“Pokoknya, bapak saya itu kaya lah.”
“Oh, iya Pak.”
“Apa lagi?”
“Begini Pak. Kalau saya oleh tahu, bapak kenapa bisa dibawa kemari?”
“Korupsi.”
“Maaf, Pak. Berapa banyak?
“Tiga ratus
lima puluh
enam triliun.”
“Oh, untuk apa ya Pak, uangnya?”
“Untuk keliling dunia, makan enak, untuk anak dan istri. Belanja.”
“Oh, iya.”
“Oh iya melulu! Terus gimana?”
“Oh, iya. Begini, Pak. Karena bapak bersalah korupsi, Bapak harus mendapat hukuman. Bapak harus ditahan, Pak.”
“Berapa lama?”
“Tiga tahun, Pak.”
***
“Tujuh belas Agustus tahun empat
lima…”
“Selamat pagi, Pak Toni Moeharto. Anda mendapat remisi.”
“Berapa bulan?”
“Tiga puluh bulan, Pak.”
“Dua setengah tahun?”
“Iya, Pak. Karena berkelakuan baik.”
“Oh, iya. Makasih. Jadi saya sudah boleh keluar?”
“Besok, Pak.”
“Maaf, Pak Polisi, saya dapat remisi tidak?”
“Nama?”
”Ngatno.”
“Nggak!"
”Kenapa, Pak?”
“Sudah kebanyakan yang dikasih remisi!”
***
“Pak Toni, selamat datang kembali ke perusahaan kita.”
“Terima kasih.”
“Kami sudah membuat pesta selamat datang atas kebebasan bapak.”
“Oh, iya, iya.”
“Senang sekali bertemu dengan bapak lagi.”
“Oh, iya.”
“Kolega-kolega bapak sudah tidak sabar untuk bekerja sama lagi dengan bapak.”
“Bagus, bagus. Kekayaan saya tidak diapa-apakan?”
“Tidak, Pak.”
“Bagus.”
***
“Heh, maling! Kamu sudah bebas?”
“Sudah. Maaf, Pak. Saya mau melamar pekerjaan.”
“Kamu pikir saya mau kasih kerjaan maling kayak kamu?”
“Maaf, Pak.”
“Sana, pergi!”
---
“Permisi, Pak.”
“Ya?"
“Saya mau cari pekerjaan. Apa saja saya mau.”
“Saya ogah mempekerjakan maling kayak kamu!”
---
“Permi…”
”Heh! Maling! Ngapain kamu ke sini?! PERGI!”
***
“Pak, anakmu sakit. Butuh uang.”
“Bapak, saya sudah ditagih uang sekolah.”
“Pak, tagihan listrik sudah menumpuk.”
“Bapak, saya lapar.”
“Pak!”
“Bapak!”
“Pak!”
“Bapak!”
***
“Saya nanti alihkan perhatiannya, kamu masuk lewat pintu samping.”
“Kamu yakin pintu samping nggak ada yang jaga?”
“Yakin! Kamu penakut amat sih No?”
“Saya takut dipenjara lagi.”
”Sudah, aman! Ayo! Satu, dua, tiga! Lari!”
Trap, trap, trap.
Kriet.
Bruk!
Gubrak!
“MALING!!!!”
“Dasar maling!”
“Gebukin aja!”
“Ampun!”
“Dasar maling! Sekali maling tetap maling!”
“Sudah! Bakar saja!”
“Ni korek!”
“Ni bensin!”
Byur!
Cres!
”Aaaaah!!!”
“MAMPUS LO! DASAR MALING!”
“Kebenaran menang!”
“Menang kebenaran!”
“Hukum sudah berdiri!”
“Sudah berdiri hukum!”
“Keadilan ditegakkan!”
“Ditegakkan keadilan!”
***
Nyawa sang maling melayang.
Harta sang koruptor mengembang.
Dunia bersenang-senang.
Atas keadilan yang katanya sudah menang.
13/05/07
-me
was in my friendster blog
Dara Tidak Bisa Terbang
Banyak hal yang Dara tidak suka. Contohnya es krim. Dara tidak suka es krim. Karena gigi Dara rusak dan semuanya ngilu kalau makan es krim. Dara juga tidak suka laki-laki. Karena kata Dara, laki-laki hanya membawa masalah.
Dara tidak suka laki-laki. Karena laki-laki bodoh. Itu kata Dara. Contohnya ayah. Ayah tidak bisa apa-apa. Dan ayah tidak peduli. Dara juga tidak peduli. Ayah hanya bisa lari. Ayah hanya bisa pergi. Mabuk dan pergi meninggalkan luka. Ayah hanya bisa menyakiti ibu. Dara tidak suka ibu. Ibu payah.
Dara tidak suka ibu. Karena ibu tidak pernah membelanya. Ibu hanya diam melihat Dara dipukuli. Dara tidak suka ibu. Dara ingin ibu berteriak. Membelanya. Atau menarik tangannya dan membawanya pergi. Dara suka itu. Ibu hanya bisa menangis. Dara tidak suka menangis. Menangis itu lemah.
Dara tidak suka menangis. Menangis itu sia-sia Dara bilang. Menangis hanya menambah luka. Dan mengasihani diri sendiri tidak berguna. Dara tidak pernah menangis. Karena Dara tidak diijinkan untuk menangis. Setiap Dara menangis, Dara dihukum. Dara hanya diam. Karena Dara tidak suka bicara. Bicara tidak mengungkapkan apa-apa.
Dara tidak suka bicara. Menurut Dara, dunia ini sudah terlalu penuh dengan sampah-sampah omong kosong. Dara bicara hanya beberapa kali dalam sehari. Karena Dara bilang, terlalu banyak bicara omong kosong membuat otak jadi goblok. Tapi mungkin juga karena tak ada yang bisa diajak bicara. Dara kesepian. Dan Dara tidak suka kesepian. Mungkin sedikit suka.
Dara tidak suka sendirian. Karena sendirian membuat kita gila. Sendirian membuat kita merasa mau meledak. Tapi Dara sering sendirian. Tapi Dara belum meledak. Belum juga gila. Mungkin sedikit gila. Mungkin juga Dara suka sendirian. Semuanya tidak pasti. Dara tidak suka ketidak pastian. Ketidak pastian hanya untuk orang sakit.
Dara tidak suka ketidak pastian. Ketidak pastian berarti pertanyaan. Pertanyaan tidak berguna. Apa yang tidak ketahui tidak akan membuat kita terluka. Ketidak tahuan itu bagus. Jadi kenapa harus ada pertanyaan? Dara tidak suka bertanya. Karena tidak tahu berarti aman. Dan Dara suka rasa aman. Walaupun Dara tidak pernah merasa aman. Tapi ketidak tahuan berbeda dengan ketidak pastian. Ketidak pastian berarti menunggu. Dan Dara tidak suka menunggu. Dara bilang menunggu itu perbuatan gila.
Dara tidak suka menunggu. Menunggu hanya untuk yang di bawah. Mengapa harus menunggu? Dara sudah cukup menunggu selama hidupnya. Dan Dara sudah cukup gila. Menunggu kebebasan. Sampai Dara putuskan untuk mendapatkan kebebasannya sendiri. Sudah cukup bukti untuk Dara. Bahwa menunggu tak akan ada hasilnya. Itu kebenaran yang Dara tahu. Dara tidak suka kebenaran. Kebenaran menyakitkan.
Dara tidak suka kebenaran. Kebenaran adalah kata yang penuh kebohongan. Semua kebenaran selalu diselipi kebohongan. Itu di dunia Dara. Dara akan percaya apa yang dia mau. Tak peduli benar atau tidak. Karena Dara bilang kebenaran dan kebohongan sekarang sama. Rupanya Dara tidak percaya lagi. Dara tidak suka ketidak percayaan. Ketidak percayaan menyiksa.
Dara tidak suka ketidak percayaan. Ketidak percayaan melemahkan. Tapi Dara tak bisa apa-apa. Buat Dara tidak ada pilihan. Semuanya terlalu palsu. Ketidak percayaan melemahkan. Kepercayaan lebih melemahkan. Maka Dara harus tidak percaya. Dan Dara tidak suka keharusan. Keharusan adalah penjara.
Dara tidak suka keharusan. Dara muak dengan keharusan. Seumur hidupnya Dara hidup dengan kata harus. Dara mau hidup dengan caranya sendiri. Dara lelah dengan aturan-aturan yang dibuat orang lain. Dara bilang cukup. Ini hidup Dara. Dara tidak suka hidup. Hidup melelahkan untuk Dara.
Dara tidak suka hidup. Hidup untuk Dara bukan mencapai kebahagiaan. Hidup untuk Dara berarti bertahan. Hidup Dara adalah kemalangan. Karena Dara tidak tahu bagaimana hidup bahagia selamanya. Karena Dara ditakdirkan untuk menderita. Mungkin hari Dara dimulai saat Dara tidur. Tapi Dara juga tidak suka tidur. Tidur membuat Dara tidak awas.
Dara tidak suka tidur. Tidur tidak juga melepaskan lelah. Karena dalam tidur otak Dara tetap bekerja. Dan mimpi-mimpi Dara tidak membantu. Mimpi buruk membuat Dara lebih lelah. Mimpi indah membuat Dara ingin mati. Ingin mati berarti keputus asaan. Putus asa berarti akhir.
Dara tidak suka putus asa. Dara tidak boleh putus asa. Bila putus asa Dara berakhir. Karena Dara hidup karena Dara. Keputus asaan adalah kejatuhan. Dan Dara tidak mau jatuh. Putus asa juga bagian dari omong kosong. Putus asa adalah sakit. Jelas Dara tidak suka sakit. Sakit adalah sakit.
Dara tidak suka sakit. Dara sudah cukup merasakan sakit. Seumur hidupnya dia hanya merasa sakit. Fisik dan mental. Dara ingin muntah. Semua sakitnya mematikan emosinya. Tapi Dara tidak keberatan. Karena Dara tidak suka emosi. Emosi sampah.
Dara tidak suka emosi. Emosi membuat Dara hancur. Dara bertahan tanpa emosi. Emosi adalah coreng. Dara cuma mau jauh-jauh dari emosi. Emosi membuat orang menangis. Emosi membuat orang tertawa. Emosi membuat orang berteriak. Dara tidak suka berteriak. Berteriak menghabiskan tenaga.
Dara tidak suka berteriak. Berteriak tak ada gunanya. Dara percaya tidak ada yang mendengarnya berteriak. Berteriak hanya membuat Dara makin tersiksa. Berteriak bisa membuat Dara disangka gila. Dan itu bisa menimbulkan cerita. Dara tidak suka cerita. Cerita identik dengan dongeng.
Dara tidak suka cerita. Dara tidak ingin mendengar cerita. Dara jarang sekali mendengar cerita. Tapi Dara ingat. Cerita tentang upik abu yang menikah dengan pangeran karena bantuan peri pelindung. Tapi Dara belajar. Dalam hidup yang panjang dan menyakitkan, peri pelindung tidak ada. Paling tidak, tidak untuk Dara. Dara adalah pengecualian. Cerita hanya membuat kita berharap. Harapan-harapan kosong. Dara juga tidak suka harapan-harapan kosong. Membuat kita buta.
Dara tidak suka harapan-harapan kosong. Harapan-harapan kosong menghempaskan kita dengan menyakitkan. Dara sering berurusan dengan harapan-harapan kosong. Harapan-harapan yang membuat Dara melayang untuk kemudian menghempaskannya. Dara mulai belajar kata-kata, ‘semakin tinggi kita terbang semakin sakit jatuhnya.” Dara tidak ingin jatuh. Maka Dara tidak mencoba terbang.
Tahu apa yang Dara suka? Dara suka menghilang. Dara suka menghilangkan eksistensinya. Dara suka menjadi angin. Dara suka tidak ada.
Masih banyak yang Dara tidak suka. Tapi hidup bukan pilihan. Dara terpaksa makan es krim kapan itu karena tidak ada makanan lain. Dara harus berurusan dengan banyak laki-laki. Dara harus mengurus ibu. Dara sering menangis dalam tidurnya walaupun dia tidak mau. Dara harus bicara karena Dara hidup. Dara harus menghabiskan hampir seluruh hidupnya dalam kesendirian karena Dara tidak punya siapa-siapa. Dara hidup dalam ketidak pastian sebenci apapun dia pada ketidak pastian. Dara menunggu seumur hidupnya dalam penantian tanpa akhir. Dara juga hidup dalam kebenaran bahwa hidup itu tidak adil. Dara tidak percaya pada siapa pun atau apa pun seberapa pun keinginannya untuk percaya. Dara hidup hidup dalam keharusan-keharusan yang terus ada. Dara hidup walaupun setengah mati dia ingin mati. Dara tidur setiap malam karena alam mengatakan begitu. Dara putus asa setiap hari dan setiap detik hidupnya. Dara sakit kemarin, flu, dan Dara sakit hati sejak dia lahir. Dara merasakan banyak emosi dalam hidupnya walaupun Dara tidak mengakuinya. Dara seringkali harus berteriak karena orang-orang terlalu tuli untuk mendengar. Dara mendengar banyak cerita setiap harinya walaupun dia menolak untuk mendengar. Dara berdiri di atas harapan-harapan kosong sejak dulu mungkin sampai dia mati.
Dan Dara tidak bisa menghilang.
note: thanks to Dara. a Little girl at "kampung Doank" that gave me the inspiration.
wish u a good life, kiddo. A better one than this Dara's
-me
was in my friendster blog
Dara tidak suka laki-laki. Karena laki-laki bodoh. Itu kata Dara. Contohnya ayah. Ayah tidak bisa apa-apa. Dan ayah tidak peduli. Dara juga tidak peduli. Ayah hanya bisa lari. Ayah hanya bisa pergi. Mabuk dan pergi meninggalkan luka. Ayah hanya bisa menyakiti ibu. Dara tidak suka ibu. Ibu payah.
Dara tidak suka ibu. Karena ibu tidak pernah membelanya. Ibu hanya diam melihat Dara dipukuli. Dara tidak suka ibu. Dara ingin ibu berteriak. Membelanya. Atau menarik tangannya dan membawanya pergi. Dara suka itu. Ibu hanya bisa menangis. Dara tidak suka menangis. Menangis itu lemah.
Dara tidak suka menangis. Menangis itu sia-sia Dara bilang. Menangis hanya menambah luka. Dan mengasihani diri sendiri tidak berguna. Dara tidak pernah menangis. Karena Dara tidak diijinkan untuk menangis. Setiap Dara menangis, Dara dihukum. Dara hanya diam. Karena Dara tidak suka bicara. Bicara tidak mengungkapkan apa-apa.
Dara tidak suka bicara. Menurut Dara, dunia ini sudah terlalu penuh dengan sampah-sampah omong kosong. Dara bicara hanya beberapa kali dalam sehari. Karena Dara bilang, terlalu banyak bicara omong kosong membuat otak jadi goblok. Tapi mungkin juga karena tak ada yang bisa diajak bicara. Dara kesepian. Dan Dara tidak suka kesepian. Mungkin sedikit suka.
Dara tidak suka sendirian. Karena sendirian membuat kita gila. Sendirian membuat kita merasa mau meledak. Tapi Dara sering sendirian. Tapi Dara belum meledak. Belum juga gila. Mungkin sedikit gila. Mungkin juga Dara suka sendirian. Semuanya tidak pasti. Dara tidak suka ketidak pastian. Ketidak pastian hanya untuk orang sakit.
Dara tidak suka ketidak pastian. Ketidak pastian berarti pertanyaan. Pertanyaan tidak berguna. Apa yang tidak ketahui tidak akan membuat kita terluka. Ketidak tahuan itu bagus. Jadi kenapa harus ada pertanyaan? Dara tidak suka bertanya. Karena tidak tahu berarti aman. Dan Dara suka rasa aman. Walaupun Dara tidak pernah merasa aman. Tapi ketidak tahuan berbeda dengan ketidak pastian. Ketidak pastian berarti menunggu. Dan Dara tidak suka menunggu. Dara bilang menunggu itu perbuatan gila.
Dara tidak suka menunggu. Menunggu hanya untuk yang di bawah. Mengapa harus menunggu? Dara sudah cukup menunggu selama hidupnya. Dan Dara sudah cukup gila. Menunggu kebebasan. Sampai Dara putuskan untuk mendapatkan kebebasannya sendiri. Sudah cukup bukti untuk Dara. Bahwa menunggu tak akan ada hasilnya. Itu kebenaran yang Dara tahu. Dara tidak suka kebenaran. Kebenaran menyakitkan.
Dara tidak suka kebenaran. Kebenaran adalah kata yang penuh kebohongan. Semua kebenaran selalu diselipi kebohongan. Itu di dunia Dara. Dara akan percaya apa yang dia mau. Tak peduli benar atau tidak. Karena Dara bilang kebenaran dan kebohongan sekarang sama. Rupanya Dara tidak percaya lagi. Dara tidak suka ketidak percayaan. Ketidak percayaan menyiksa.
Dara tidak suka ketidak percayaan. Ketidak percayaan melemahkan. Tapi Dara tak bisa apa-apa. Buat Dara tidak ada pilihan. Semuanya terlalu palsu. Ketidak percayaan melemahkan. Kepercayaan lebih melemahkan. Maka Dara harus tidak percaya. Dan Dara tidak suka keharusan. Keharusan adalah penjara.
Dara tidak suka keharusan. Dara muak dengan keharusan. Seumur hidupnya Dara hidup dengan kata harus. Dara mau hidup dengan caranya sendiri. Dara lelah dengan aturan-aturan yang dibuat orang lain. Dara bilang cukup. Ini hidup Dara. Dara tidak suka hidup. Hidup melelahkan untuk Dara.
Dara tidak suka hidup. Hidup untuk Dara bukan mencapai kebahagiaan. Hidup untuk Dara berarti bertahan. Hidup Dara adalah kemalangan. Karena Dara tidak tahu bagaimana hidup bahagia selamanya. Karena Dara ditakdirkan untuk menderita. Mungkin hari Dara dimulai saat Dara tidur. Tapi Dara juga tidak suka tidur. Tidur membuat Dara tidak awas.
Dara tidak suka tidur. Tidur tidak juga melepaskan lelah. Karena dalam tidur otak Dara tetap bekerja. Dan mimpi-mimpi Dara tidak membantu. Mimpi buruk membuat Dara lebih lelah. Mimpi indah membuat Dara ingin mati. Ingin mati berarti keputus asaan. Putus asa berarti akhir.
Dara tidak suka putus asa. Dara tidak boleh putus asa. Bila putus asa Dara berakhir. Karena Dara hidup karena Dara. Keputus asaan adalah kejatuhan. Dan Dara tidak mau jatuh. Putus asa juga bagian dari omong kosong. Putus asa adalah sakit. Jelas Dara tidak suka sakit. Sakit adalah sakit.
Dara tidak suka sakit. Dara sudah cukup merasakan sakit. Seumur hidupnya dia hanya merasa sakit. Fisik dan mental. Dara ingin muntah. Semua sakitnya mematikan emosinya. Tapi Dara tidak keberatan. Karena Dara tidak suka emosi. Emosi sampah.
Dara tidak suka emosi. Emosi membuat Dara hancur. Dara bertahan tanpa emosi. Emosi adalah coreng. Dara cuma mau jauh-jauh dari emosi. Emosi membuat orang menangis. Emosi membuat orang tertawa. Emosi membuat orang berteriak. Dara tidak suka berteriak. Berteriak menghabiskan tenaga.
Dara tidak suka berteriak. Berteriak tak ada gunanya. Dara percaya tidak ada yang mendengarnya berteriak. Berteriak hanya membuat Dara makin tersiksa. Berteriak bisa membuat Dara disangka gila. Dan itu bisa menimbulkan cerita. Dara tidak suka cerita. Cerita identik dengan dongeng.
Dara tidak suka cerita. Dara tidak ingin mendengar cerita. Dara jarang sekali mendengar cerita. Tapi Dara ingat. Cerita tentang upik abu yang menikah dengan pangeran karena bantuan peri pelindung. Tapi Dara belajar. Dalam hidup yang panjang dan menyakitkan, peri pelindung tidak ada. Paling tidak, tidak untuk Dara. Dara adalah pengecualian. Cerita hanya membuat kita berharap. Harapan-harapan kosong. Dara juga tidak suka harapan-harapan kosong. Membuat kita buta.
Dara tidak suka harapan-harapan kosong. Harapan-harapan kosong menghempaskan kita dengan menyakitkan. Dara sering berurusan dengan harapan-harapan kosong. Harapan-harapan yang membuat Dara melayang untuk kemudian menghempaskannya. Dara mulai belajar kata-kata, ‘semakin tinggi kita terbang semakin sakit jatuhnya.” Dara tidak ingin jatuh. Maka Dara tidak mencoba terbang.
Tahu apa yang Dara suka? Dara suka menghilang. Dara suka menghilangkan eksistensinya. Dara suka menjadi angin. Dara suka tidak ada.
Masih banyak yang Dara tidak suka. Tapi hidup bukan pilihan. Dara terpaksa makan es krim kapan itu karena tidak ada makanan lain. Dara harus berurusan dengan banyak laki-laki. Dara harus mengurus ibu. Dara sering menangis dalam tidurnya walaupun dia tidak mau. Dara harus bicara karena Dara hidup. Dara harus menghabiskan hampir seluruh hidupnya dalam kesendirian karena Dara tidak punya siapa-siapa. Dara hidup dalam ketidak pastian sebenci apapun dia pada ketidak pastian. Dara menunggu seumur hidupnya dalam penantian tanpa akhir. Dara juga hidup dalam kebenaran bahwa hidup itu tidak adil. Dara tidak percaya pada siapa pun atau apa pun seberapa pun keinginannya untuk percaya. Dara hidup hidup dalam keharusan-keharusan yang terus ada. Dara hidup walaupun setengah mati dia ingin mati. Dara tidur setiap malam karena alam mengatakan begitu. Dara putus asa setiap hari dan setiap detik hidupnya. Dara sakit kemarin, flu, dan Dara sakit hati sejak dia lahir. Dara merasakan banyak emosi dalam hidupnya walaupun Dara tidak mengakuinya. Dara seringkali harus berteriak karena orang-orang terlalu tuli untuk mendengar. Dara mendengar banyak cerita setiap harinya walaupun dia menolak untuk mendengar. Dara berdiri di atas harapan-harapan kosong sejak dulu mungkin sampai dia mati.
Dan Dara tidak bisa menghilang.
note: thanks to Dara. a Little girl at "kampung Doank" that gave me the inspiration.
wish u a good life, kiddo. A better one than this Dara's
-me
was in my friendster blog
Subscribe to:
Posts (Atom)