Dunia menilai apa yang aku lakukan. Dunia memandang dan mencela aku. Dunia mendikte identitasku. Aku lelah dengan dunia.
Ibadah. Orang bilang bahwa ibadah terlalu membosankan. Tapi toh aku datang juga ke rumah-rumah ibadah. Karena ibuku bilang aku harus. Dengar ceramah, berdoa, minta ini itu kepada Tuhanku yang berbeda dengan tuhan-tuhan yang lain.
Setiap malam sebelum tidur aku berdoa. “Terima kasih Tuhan untuk pimpinanmu, dan pimpin lagi malam ini, juga besok pagi.” Mungkin Tuhan juga tertidur mendengar doaku yang sama setiap malam seperti aku tertidur di gereja. Tapi toh aku berdoa juga setiap malam, setiap mau makan, dan setiap bangun pagi. Karena dunia bilang kita harus berdoa.
Aku menjauhi seks bebas. Aku anti terhadap narkoba. Aku tidak pernah bicara kasar. Aku mengasihi orang lain. Aku menghormati ayah dan ibuku. Aku berdoa. Aku rajin ke gereja. Aku tidak minum minuman keras. Aku menjauhi pesta-pesta nista. Aku orang beragama. Karena ayah dan ibuku pun begitu.
Hidupku sempurna.
Aku sempurna.
Aku menjauhi dosa.
Lalu dunia memandangku sinis dan berkata bahwa aku sok suci. Dunia menjauhiku karena aku berbeda dengan mereka. Dunia berkata bahwa aku berpura-pura. Dunia menilaiku rendah karena aku tidak sesuai dengan standar mereka.
Dunia menertawakanku ketika aku berjalan membawa kitab suci. Dunia menertawakan baju-bajuku yang menutupi aurat. Dunia menertawakanku yang pergi beribadah ketika mereka bersenang-senang.
Dunia
mencela
aku.
Lalu aku bosan dengan hidupku yang monoton. Aku bosan menjadi orang baik-baik. Aku berhenti beribadah. Aku berhenti berdoa dan berharap Tuhan sudah hafal dengan doa-doaku. Aku sudah mengulangnya berulang-ulang kali.
Ibuku bilang aku harus ibadah lagi. Aku bilang tidak perlu aku masih ingat rasanya ke gereja.
Ayahku bilang aku harus terus berdoa. Aku bilang tidak perlu, Tuhan sudah bosan dengan pengulangan-pengulangan yang sama.
Aku tidak lagi mendengarkan lagu-lagu rohani. Sekarang aku duniawi. Aku bebas tanpa harus mempertahankan nilai-nilai beragama.
Lalu dunia memandangku sinis dan berkata bahwa aku orang berdosa. Mereka menunjuk-nunjukku dan berkata aku pantas masuk neraka. Dunia berdoa untukku agar aku bertobat.
Dunia mencelaku yang menjauh dari Tuhanku. Dunia mencelaku ketika aku bersenang-senang di hari-hari aku harus beribadah. Dunia memandangku curiga ketika aku makan tanpa mengucap syukur.
Dunia
mencela
aku.
Aku harus jadi ini.
Aku harus jadi itu.
Ini salah.
Itu juga salah.
Tapi ini lebih baik daripada itu.
Tapi kadang itu lebih baik daripada ini.
Dunia tak tahu apa-apa.
Aku benci asap rokok. Membuatku batuk dan sesak. Aku tidak mau merokok. Sudah cukup aku mendengar cerita-cerita mengerikan tentang rokok. Aku takut rokok. Aku takut orang yang merokok. Mereka menyodorkan asap yang bisa membunuhku perlahan-lahan.
Sekelilingku penuh dengan asap. Aku sesak. Asap itu kotor, bau. Asap itu noda. Noda di bajuku, noda di paru-paruku. Aku tak mengerti kenapa mereka mau merokok.
Paru-paruku bersih. Aku akan hidup lebih lama dari mereka. Aku bahagia.
Lalu dunia memangdangku sinis dan berkata aku membosankan. Rokok itu keren. Dunia bilang merokok itu lambang eksistensiku.
Dunia menjauhiku ketika aku menutup hidung menjauhi asap. Dunia menjauhiku ketika aku terbatuk mencium aroma rokok. Dunia menjauhiku ketika aku menolak mendefinisikan eksistensiku dengan sebatang kertas.
Dunia
mencela
aku.
Dunia menarikku dari segala arah. Mengajakku bergabung dengan definisinya. Aku tak bisa bertahan. Setiap hari aku ditawari rokok. Dari rokok tipis yang mahal sampai rokok murahan yang biasa dibeli buruh-buruh di jalanan.
Sampai akhirnya aku menerima. Penawaran mereka terlalu banyak. Aku kalah. Isapan pertamaku seperti neraka. Selanjutnya surga dunia. Aku ketagihan. Asap. Asap. Aku mau lagi asap. Rasanya seperti bernafas. Aromanya memenuhiku, mengisi tubuhku. Aku tak bisa lagi bertahan tanpanya. Aku membutuhkannya.
Sekali lagi aku menemukan surga. Aku puas. Batang-batang tipis itu memuaskanku.
Lalu dunia memandangku sinis dan berkata aku bodoh. Aku bodoh membiarkan rokok-rokok itu merusakku. Mereka bilang aku akan cepat mati dan itu salahku sendiri.
Dunia menyingkirkanku ketika aku menghabiskan uangku untuk membeli rokok. Dunia menyingkirkanku karena mereka bilang aku merugikan orang lain. Dunia menyingkirkanku dengan kebutuhanku. Dunia menyingkirkanku karena mereka bilang aku nakal.
Dunia
mencela
aku.
Dunia berubah-ubah seenaknya. Dunia bersikap seenaknya. Tapi katanya aku tak boleh seenaknya. Dunia menciptakan aturannya sendiri. Dunia memaksaku menjadi sepertinya, mengikuti aturannya.
Aku masih orang baik-baik. Aku masih orang terhormat. Aku masih benci seks bebas. Aku tak pernah senggama. Aku bersih dari cela-cela itu.
Aku melihat orang-orang di sekelilingku. Tangan-tangan meraba, memegang, merogoh, mengusap. Bibir mereka menyentuh, mengecup. Mata-mata memandang, lapar, lalu menerkam. Aku jijik. Aku menjauh.
Aku perawan. Aku bangga aku perawan. Dari ujung kaki sampai ke helai terakhir rambutku aku perawan.
Aku bersih.
Lalu dunia memandangku sinis dan berkata aku munafik. Mereka bilang aku kurang asik. Hidupku tidak sesuai dengan jamanku.
Dunia menuduhku ketika aku menghindari bibir pacarku. Dunia menuduhku ketika aku menolak bersentuhan dengan lawan jenis. Dunia menuduhku dengan semua moralku. Dunia menuduhku ketika aku memilih untuk bicara daripada meraba-raba.
Dunia
mencela
aku.
Suatu hari aku menyerah. Hormon-hormonku terlalu agresif untuk kuhindari. Aku lelah menahan diri. Aku tak sekuat itu. Aku memutuskan untuk menjadi tak perawan. Aku akhirnya mencoba.
Dimulai dengan tangan. Sentuhan di tangan membuat jantungku berdegup-degup. Genggamannya membuatku melayang-layang. Lalu tangannya terus berjalan, menyentuh-nyentuh yang tak terlihat mata. Bibir, lidah, menyentuh, mengusap. Basah. Nikmat. Dulu aku bodoh menolak nikmat.
Tapi lalu semuanya jadi biasa. Tapi aku tak lagi perawan. Aku senang senggama. Karena itu nikmat.
Lalu dunia memandangku sinis dan berkata aku kotor. Hidupku kotor dan menjijikan. Dunia melihatku seperti tikus got yang bahkan tak pantas dipandang mata.
Dunia menolakku dengan pilihan hidupku. Dunia menolakku takut aku mengidap penyakit kotor. Dunia menolakku ketika aku menjadi seperti dunia, aneh. Dunia menolakku yang meraba-raba.
Dunia
mencela
aku.
Dunia tak tahu siapakah dirinya. Dunia tak punya definisi akan apa itu dunia. Dunia tak tahu apa yang dia inginkan. Dunia tak punya nilai tak punya norma. Tapi dunia bersikap seakan dialah nilai, dialah norma. Aku muak dengan dunia.
Aku
mencela
dunia.
Tammie
10/29/07
GRCC Holman Library
Just a little short story.
Ps. : if anyone reads this blog and doesn't understand indonesian
I'll be more than happy to translate it
but, what are the odds?
haha
Quote of the day:
"Be who you are and say what you feel because those who mind don't matter and those who matter don't mind."
Dr. Seuss
Monday, October 29, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
3 comments:
Aha.
First, the reply for your post.
Menarik kok Tam.
Beneran deh.
Hihihi. Beneran menarik maksud gw.
I like it very mucho.
Second, "belakangan ini" tuh maksudnya dari kapan ya? Hehehe..
The last post before this is never a short story.
Some, though, I admit, I ended in the manner that made them look rushed. Some done by purpose, some not. Hehe.
you're good ;)
keep on writing!
"have to sleep on it.
than post it."
maksudnyaaa apa tam? o_O
yaa.. i like it very mucho.
pilosopis sih. hehe.
hah? really?
the ones i publish here are not curhat deh kayaknya..
cheers!
Post a Comment